16/08/12

KERANGKA KONSEPTUAL FASB


A.    Pengertian Rerangka Konseptual
Rerangka konseptual dipandang sebagai teori akuntansi yang terstruktur (Belkaouli, 1993). Hal ini disebabkan struktur rerangka konseptual sama dengan struktur teori akuntansi yang di dasarkan pada proses penalaran logis (logical normative). Atas dasar penalaran ini, teori merupakan proses pemikiran menurut rerangka konseptual tertentu untuk menjelaskan apa yang harus di lakukan apabila ada fakta atau fenomena baru.
FASB (1978) mendefinisikan rerangka konseptual sebagai suatu format yang saling berkait sebagai berikut : “….suatu format yang koheren tentang tujuan (objectives) dan konsep dasar yang saling berkaitan, yang di harapkan dapat menghasilkan standar-standar yang konsisten dan memberi pedoman tentang jenis, fungsi, serta keterbatasan akuntansi keuangan dan pelaporan keuangan”.
Ada beberapa pihak yang memandang rerangka konseptual sebagai “ konsistensi” (Undang-Undang Dasar), yang merupakan landasan dalam proses penentuan standar akuntansi. Tujuannya adalah untuk memberi pedoman bagi badan yang berwenang dalam memecahkan masalah yang muncul selama proses penentuan standar. Hal ini di lakukan dengan cara mempersempit permasalahan sehingga dapat di tentukan apakah standar tertentu sesuai dengan rerangka konseptual.
B.     Perumusan Rerangka Konseptual
Rerangka konseptual dimulai dari penentuan tujuan, yang merupakan landasan untuk menyusun elemen yang lain seperti karakteristik kualitatif dari informasi, elemen laporan keuangan dan pengakuan/pengukuran. Proses perumusan rerangka konseptual pada dasarnya merupakan proses evolusi yang dihasilkan dari pekerjaan/proyek sebelumnya seperti A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT) tahun 1966 oleh AAA, Basic Concept and Accounting Principles Underlying Financial Statement of Business Enterprises (APB Opinion No. 4) tahun 1970 oleh APB, Objectives of Financial Statement (Trueblood Committee Report) tahun1973 oleh AICPA, Statement of Accounting Theory and Theory Acceptance (SATTA) tahun 1977 oleh AAA, dan Statement of  Financial Accounting Concepts (SFAC) no. 1,2,3,4,5,6 tahun 1978, 1980, 1980, 1984, dan 1985 oleh FASB.
Selanjutnya hanya ditekankan pada rerangka konseptual FASB. Adanya kebutuhan akan rerangka konseptual mendorong FASB mengeluarkan Discussion Memorandum berjudul “ Conceptual Rerangka for Financial Accounting and Reporting : Elements of Financial Statements and Their Measurement “ pada tahun 1976. Hasil kerja dan tulisan tersebut akhinya pada perioda 1978-1985 dihasilkan enam komponen rerangka konseptual dan diberi nama Statement of  Financial Accounting Concept (SFAC) sebagai berikut :
a). SFAC No. 1 : Objectives of  Financial Reporting by Business Enterprise tahun 1978. Isi : tujuan pelaporan keuangan.
b). SFAC No. 2 : Qualitative Charateristics of Accounting Information tahun 1980. Isi : kualitas informasi yang harus dipenuhi dalam pelaporan keuangan.
c). SFAC No. 3 : Elemennts of  Financial Statements of Business Enterprises tahun 1980. Isi : tujuan yang akan dicapai dalam pelaporan keuangan organisasi nir laba.
d). SFAC No. 4 : Objectives of  Financial Reporting by Nonbusiness Organizations tahun 1980. Isi : kriteria pengakuan dan atribut pengukuran elemen laporan keuangan.
e). SFAC No. 5 : Recognition dan Measurement in Financial Statement of Business Enterprises tahun 1984. Isi : Definisi dan karakteristik elemen laporan keuangan.
f). SFAC No. 6 : Elements of Financial Statements: A Replacement of  FASB Concepts Statement No. 3 tahun 1985. Isi : mengganti SFAC No. 3 dan berlaku juga bagi organisasi nir laba.
g). SFAC no. 7 “using cash flow information and present value in accounting measurement”, yang memberikan kerangka kerja bagi pemakaian arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang (present value) sebagai dasar pengukuran






Kebutuhan akan Kerangka Kerja Konseptual
1.      Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar laporan keuangan perusahaan.
2.      Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada kerangka teori yang telah ada

C.    Penjelasan diatas adalah sebagai berikut:
1.      SFAC No. 1 (Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises)
Menekankan pada tujuan pelaporan keuangan perusahaan yaitu untuk menyediakan informasi yang berguna dalam proses pengambilan keputusan bisnis dan ekonomi. Statement ini merupakan turunan dari Trueblood Report dengan beberapa judgment penilaian yang lebih berorientasi pada pengguna.
Statement ini mengakui adanya heterogenitas kelompok pengguna eksternal. Meskipun demikian, statement ini menyatakan bahwa pada umumnya para pengguna eksternal tersebut mementingkan prediksi jumlah, waktu, dan ketidakpastian aliran kas di masa mendatang. Oleh karena itu, tujuan pelaporan keuangan perusahaan didefinisikan secara umum dan tidak menyasar pada kepentingan satu kelompok pengguna saja.
Statement ini berasumsi bahwa pengguna laporan keuangan memiliki kemampuan dalam membaca informasi yang terdapat didalamnya. Selain itu, statement ini juga menyatakan pentingnya stewardship untuk menaksir seberapa baik manajemen melaksanakan tugas dan kewajibannya kepada pemilik dan pihak lain yang berkepentingan. Berikut ini merupakan beberapa judgment penilaian penting yang dibuat melalui laporan:
1)       Manfaat penggunaan informasi lebih besar daripada biaya yang digunakan untuk menyediakan informasi tersebut.
2)      Laporan akuntansi bukan satu- satunya sumber informasi mengenai perusahaan.
3)      Accrual accounting sangat berguna dalam menaksir dan memprediksi earning power dan aliran kas suatu perusahaan.
4)      Informasi yang disediakan harus bermanfaat, tapi pengguna membuat keputusan dan penaksiran mereka sendiri.
Dokumen ini tidak menyatakan statement mana yang harus dipakai dan bagaimana formatnya. Namun dokumen ini menyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyediakan informasi mengenai sumber ekonomi perusahaan, kewajiban, dan ekuitas pemilik.

2.      SFAC No. 2 (Qualitative Characteristics of Accounting Information).
Istilah karakteristik kualitatif pernah disebutkan dalam APB Statement 4. Namun yang dibahas di sini merupakan lanjutan dari ASOBAT. Statement No. 2 ini menempatkan kepentingan pengambil keputusan sebagai pusat perhatian. Manfaat informasi haruslah melebihi biaya untuk menyediakannya. Dengan demikian understandability merupakan kualitas penting yang harus dipenuhi, sekaligus menjadi hambatan besar.
Manfaat informasi akuntansi tercermin pada besarnya manfaat yang diperoleh pengguna untuk mengambil keputusan. Dengan demikian, besarnya manfaat informasi akuntansi terkait dengan tujuan prediktif dan akuntabilitas. Biaya langsung informasi terkait dengan kegiatan mengumpulkan, menyiapkan, dan menyebarkan informasi. Selain itu, informasi (misal sesuai segmentasi) yang dipublikasi dapat merugikan perusahaan dalam menghadapi persaingan dalam industry. Sedangkan biaya tidak langsung terkait dengan understandability informasi. Misalnya pengungkapan tambahan seperti yang diatur dalam SFAS No. 33 terbukti tidak atau kurang dimengerti oleh pengguna. Masalah lain yaitu terjadinya overload informasi atau kemampuan individu dan pasar dalam menyerap dan menggunakan informasi.
Biaya informasi, baik langsung maupun tidak, melibatkan konsekuensi ekonomi yang kemudian menimbulkan masalah penilaian (valuation). Oleh karena itu, sebuah usaha diarahkan untuk berkonsentrasi pada karakteristik representational faithfulness.
Ø  Karakteristik Kualitatif dari Informasi
FSAB dalam SFAC No. 2 menyebutkan bahwa karakteristik kualitatif dimaksudkan untuk memberi kriteria dasar dalam memilih : alternatif metoda akuntansi dan pelaporan keuangan dan persyaratan pengungkapan (disclosure).
a.       Relevan
Informasi dikatakan relevan apabila informasi tersebut memiliki manfaat, sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan oleh pemakai laporan keuangan. Atau dengan kata lain, relevan merupakan kemampuan dari suatu informasi untuk mempengaruhi keputusan manajer atau pemakai laporan keuangan lainnya sehingga keberadaan informasi tersebut mampu mengubah atau mendukung harapan mereka tentang hasil-hasil atau konsekuensi dari tindakan yang diambil.
b.       Keandalan (reability)
Keandalan merupakan kualitas informasi yang menyebabkan pemakaian informasi akuntansi, sangat tergantung pada kebenaran informasi yang dihasilkan. Keandalan suatu informasi sangat tergantung pada kemampuan suatu informasi untuk menggambarkan secara wajar keadaan/peristiwa yang digambarkan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya (representational faithfulness).
c.       Daya banding dan konsistensi
Suatu informasi dikatakan bermanfaat kalau informansi tersebut dapat saling diperbandingkan baik antar perioda maupun antar perusahaan. Disampingitu, informasi dikatakan bermanfaat kalau ada konsistensi dalam proses penyajiannya.
d.      Pertimbangan cost-benefit
Pertimbangan cost-benefit dipandang sebagai kendala yang dihadapi dalam penyajian informasi keuangan. Informasi akuntansi keuangan akan diupayakan untuk disajikan dalam laporan keuangan, selama manfaat yang diperoleh dari penyajian informasi tersebut melebihi biaya yang diperlukan untuk menghasilkannya. Oleh karena itu, sebelum menyajikan informasi, manfaat yang akan diperoleh dari informasi tersebut harus dibandingkan dengan biaya yang akan timbul.
e.        Materialitas
Materialitas merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam mengakui suatu informasi akuntansi. Pertimbngan utama dalam konsep ini adalah apakah penyajian informasi tertentu akan mempengaruhi secara signifikan terhadap keputusan yang diambil. Masalah yang timbul dalam menentukan tingkat materialitas suatu informasi adalah tidak adanya aturan terhadap konsep tersebut. Sampai saat ini tidak ada konsep umum terhadap materialitas. Penentuan tingkat materialitas suatu informasi akhirnya diserahkan pada pertimbangan profesional.
FASB menyatakan bahwa kegunaan informasi akuntansi mengartikan bahwa  informasi  itu  adalah relevan  dan  reliable.  Hal  tersebut  mengisyaratkan  tentang   bagaimana   caranya   menguji   suatu   teori akuntansi secara tidak  langsung.  Pendekatan  yang  diketengahkan  oleh  psikolog  edukasi  berbasis  pada analisis yang sama, yaitu terdapat uji reliabilitas. Uji ini pada dasarnya harus dilakukan  melalui  penentuan seberapa besar kesalahan yang tercakup dalam  pengukuran.  Perhatian  terhadap  objektifitas  sangat  dekat dengan  reliabilitas.  Objektifitas  mencakup  alat  kontrol   praktis   untuk   meminimalisir   kesalahan   dan bias dalam akuntansi. Adapun tujuannya  adalah  untuk  membuat   konsep  dan  operasi  akuntansi  dengan tepat.  Tujuan  lainnya  adalah  untuk  memperoleh  kesepakatan  umum,  menunjukkan  adanya  konsensus diantara sejumlah ahli atas suatu ukuran tertentu dan meningkatkan standar kompetensi dan etika profesi.
FASB menyatakan bahwa suatu keterkaitan antara reliabilitas dengan relevan  mungkin  perlu  atau bermanfaat. Adalah mungkin bagi suatu komponen untuk memiliki reliabilitas yang tinggi  tetapi  mungkin tidak relevan. Juga mungkin suatu komponen itu lebih relevan daripada yang lain walaupun  reliabilitasnya tidak begitu tinggi. Dengan demikian, tidak mungkin terjadi bahwa suatu  komponen  itu  dikatakan  sangat tidak reliable tetapi  relevan.  Informasi  yang  tingkat  kesalahannya  sangat  tinggi  tidak  dapat  dikatakan relevan.
Sikap    manajemen    terhadap    penerapan    suatu    standar    akuntansi    berhubungan dengan kepentingannya terhadap pengungkapan informasi akuntansi yang menggambarkan kinerja finansial  dalam bentuk pelaporan keuangan. Teori kegunaan-keputusan informasi akuntansi tercermin dalam bentuk kaidah- kaidah yang harus dipenuhi oleh komponen-komponen pelaporan keuangan agar  dapat  bermanfaat  dalamm rangka pengambilan keputusan ekonomi. SFAC No. 2  tentang  Qualitative  Characteristics  of  Accounting Information menggambarkan hirarki dari kualitas informasi akuntansi  dalam  bentuk  kualitas  primer  dan kualitas sekunder.
Gambar 1. Hirarki Kualitas Akuntansi
Sumber: FASB No.2 (FASB 1980)

Karakteristik kualitatif laporan keuangan berguna dalam  meyakinkan  bahwa  informasi  keuangan adalah bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi  (FASB 1980). Diperlukan  atribut  atau  kualitas bahwa informasi keuangan seharusnya memiliki karakteristik kualitatif  utama  yaitu  relevan  dan  reliabel. Materialitas terkait dalam kualitas relevan. Karakteristik kedua mencakup komparabilitas,  konsistensi  dan ketepat-waktuan.
 Kualitas primer  dari  informasi  yang  berguna  dalam  pengambilan  keputusan  ekonomi adalah nilai  relevan  (relevance)  dan  reliabilitas  (reliability).  Kandungan  kualitas  primer  kegunaan- keputusan  informasi  akuntansi   meliputi   komponen-komponen   kandungan   dari   nilai   relevan,   yaitu ketepatwaktuan (timeliness), nilai umpan balik (feed-back value) dan nilai prediktif (predictive-value). Dan komponen-komponen  kandungan  reliabilitas,  yaitu  penggambaran  yang   senyatanya   (representational faithfullness), netralitas (neutrality) dan  dapat  diperiksa  (verifiability).  Selain  itu  juga  terdapat  kualitas sekunder, sebagai penghubung antara kualitas primer, yaitu  komparabilitas  (comparability)  dan  taat  asas (consistency).
Pernyataan FASB memandang pengungkapan informasi  dalam  pelaporan  keuangan  itu  adalah untuk   menggambarkan   pengakuan   komponen-komponen   dan   menyajikan   pengukurannya.    Tujuan pengungkapan laporan keuangan adalah untuk menyajikan informasi yang membantu investor dan  kreditur dalam memperhitungkan resiko dan potensi serta mengijinkannya  untuk  membandingkan  dalam  maupun antar periode tahun. Selain itu adalah untuk menyajikan  informasi  mendatang  mengenai  arus  kas  masuk dan arus kas keluar dan membantu investor memperhitungkan tingkat kembalian atas investasinya.
Dalam SFAC No. 1, peranan pelaporan keuangan dipandang  sebagai  pembantu  investor,  kreditur dan pemakai lain dalam menelaah kualitas informasi yang berguna  dalam  pengambilan  keputusan  bisnis, pertanggung-jawaban manajerial dan adanya sifat ketidak-pastian dari arus kas bersih perusahaan. FASB  menyatakan  bahwa  relevan  dan  reliabilitas  adalah  dua  kualitas  utama   yang   membuat informasi akuntansi itu berguna dalam pengambilan keputusan. Relevan diklasifikasikan sebagai  kapasitas dari  informasi  untuk  membuat  suatu  perbedaan   dalam   pembuatan   keputusan   pemakai.   Reliabilitas didefinisikan sebagai kualitas pemberian jaminan bahwa  informasi  secara  rasional  bebas  dari  kesalahan dan bias dan mewakili apa yang akan digambarkan.


3.      SFAC No. 3  (Elements of Financial Statements of Business Enterprises )
Mendefinisikan 10 elemen laporan keuangan yang akan diamandemen oleh SFAC No. 6. Statement No. 3 ini menyebutkan tiga pandangan akuntansi keuangan (revenue-expense, asset-liability, dan nonarticulated) yang dibicarakan lebih lanjut dalam diskusi memorandum. Statement ini tidak menyebutkan secara spesifik tipe konsep capital maintenance yang digunakan maupun masalah pengakuan (realization) dan pengukuran yang disajikan dalam laporan keuangan.
SFAC No. 3 juga mengganti istilah earning menjadi income untuk mengindikasikan comprehensive atau perubahan total dalam net asset yang terjadi selama periode sebagai hasil dari kegiatan operasi perusahaan.
4.      SFAC No.4 (Objectives of Financial Reporting by Nonbusiness Organizations)
Lebih menekankan pada pelaporan keuangan entitas non bisnis yang memiliki karakter sebagai berikut:
1.      Menerima jumlah sumber daya yang signifikan dari penyumbang yang tidak menginginkan imbalan atau proporsi ekonomi atas sumbangan yang diberikan.
2.      Tujuan utama operasinya bukan untuk menyediakan barang dan jasa demi mendapatkan profit.
3.      Tidak ada hak kepemilikan yang dapat dijual, dipindahkan, atau menerima distribusi sisa jika terjadi likuidasi.
SFAC No. 4 juga menyatakan bahwa entitas non bisnis tidak memiliki indicator tunggal atas kinerja entitas seperti pengukuran income pada sector profit oriented.
5.      SFAC No. 5 (Recognition and Measurement in Financial Statement of Business Enterprises).
SFAC No. 5, “ Recognition and Measurement in Financial Statement by Business Enterprises “, dimaksudkan untuk mengatasi masalah masalah yang berkaitan dengan pengakuan dan pengukuran. Dalam kaitannya dengan pengakuan, SFAC No. 5, menyebutkan bahwa kriteria pengakuan pada umumnya konsisten dengan praktik akuntansi berjalan dan tidak ada perubahan radikal. Ditambahkan, pengungkapan dengan menggunakan media pelaporan yang lain diluar pelaporan keuangan bukan merupakan suatu pengakuan.
Dalam SFAC No. 5 disebutkan bahwa kriteria yang digunakan untuk mengikuti elemen laporan keuangan didasarkan pada empat faktor sebagai berikut:
a.       Definisi : pos akan diakuai apabila memenuhi definisi elemen laporan keuangan.
b.      Keterukuran : pos tersebut memiliki atribut yang dapat diukur dengan cukup andal.
c.       Relevan : informasi memiliki kemampuan untuk membuat perbedaan dalam pengambilan keputusan.
d.      Keandalan : informasi menggambarkan keadaan sebenarnya secara wajar, dapat diuji kebenarannya dengan netral.
Dalam kaitannya dengan pengukuran, SFAC No. 5, FASB melalui discussion memorandum, mengakui adanya 5 dasar  pengukuran yang dapat digunakan untuk menentukan nilai aset dan utang, yaitu :
a.       Cost historis ( Historical cost ), yaitu jumlah kas atau setaranya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset sampai siap untuk digunakan.
b.      Cost pengganti terkini ( Current replacement ), yaitu jumalh kas atau setaranya yang harus dibayar jika aset yang sejenis/sama diperoleh pada saat sekarang.
c.       Nilai pasar terkini ( Current market value ), yaitu jumlah kas atau setaranya yang diperoleh dengan menjual aset kegiatan penjualan normal.
d.      Nilai bersih yang dapat direalisasi ( Net realisable value ), yaitu jumlah kas atau setaranya (tanpa pendiskontoan) yang diperoleh jika aset diharapkan akan dijual setelah dikurangi dengan biaya langsung (biaya produksi dan penjualan).
e.       Nilai sekarang aliran kas mendatang ( Present value of future cast flow), yaitu nilai sekarang aliran kas masa mendatang yang akan diperoleh seandainya aset dijual pada masa yang akan datang.
Ruang lingkup statement ini meliputi format dalam menyajikan laporan keuangan. SFAC menyatakan bahwa disclosure (pengungkapan) yang disajikan terpisah dari laporan keuangan akan sama efektifnya bila ia disajikan bersamaan dengan laporan keuangan. Selain itu, statement ini juga menyinggung mengenai earning dan comprehensive income. Salah satu perhatian khusus SFAC adalah format dan penyajian perubahan ekuitas pemilik yang tidak berasal dari transaksi dengan pemilik. Earning akan menggantikan dan berbeda dari comprehensive income dengan mengeluarkan efek kumulatif dalam perubahan prinsip akuntansi pada periode sebelumnya.
SFAC ini juga mengatur mengenai kriteria pengakuan dimana untuk mengakui atau mencatat revenue dan gain, asset yang diterima harus realized or realizable atau revenue tersebut sudah dihasilkan (earned). Sedangkan untuk mengakui biaya dan rugi, asset yang digunakan harus telah digunakan atau asset tersebut tidak memiliki manfaat lagi di masa mendatang. Metode pengakuan biaya termasuk matching revenue, write- off selama periode saat kas dihabiskan atau kewajiban terjadi untuk item biaya dalam jangka waktu yang sangat pendek, atau prosedur sistematik rasional yang lain.

6.       SFAC No. 6 (Elements of Financial Statements; A Replacement of FASB Concepts Statement No.3 Also Incorporating an Amendment of FASB Concepts Statement No. 2).
       SFAC No. 6, “ Elements of Financial Statement of Business Enterprises “, dijelaskan bahwa ada sepuluh elemen laporan keuangan, yaitu :
a)      Aset ( assets ) adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa masa lalu.
b)      Utang ( liabitilies ) adalah pengorbanan manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa mendatang yang berasal dari kewajiban sekarang suatu entitas untuk mentrasfer aset atau menyerahkan jasa pada entitas lain dimasa mendatang sebagai akibat transaksi masa lalu.
c)      Ekuitas ( equity ) adalah hak sisa (residual interest) atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan utang. Dalam perusahaan bisnis, ekuitas sama dengan hak pemilik.
d)     Investasi oleh pemilik ( investment by owners ) adalah kenaikan aset neto suatu perusahaan yang berasal dari transfer entitas lain ke perusahaan tersebut atas sesuatu yang bernilai untuk memperoleh atau meningkatkan hak kepemilikan (atau ekuitas) dalam perusahaan tersebut.
e)      Distribusi pada pemilik ( distribution to owners ) adalah penurunan aset neto suatu perusahaan yang berasal dari transfer aset, penyerahan jasa, atau penambahan utang oleh perusahaan kepada pemilik.
f)       Laba komprehensif ( comprehensive income ) adalah perubahan ekuitas (aset neto) suatu entitas selam satu perioda yang berasal dari transaksi atau peristiwa dan kondisi lainnya dari sumber yang bukan berasal dari pemilik.
g)      Pendapatan ( revenue) adalah aliran masuk kenaikan aset suatu entitas atau penurunan utang suatu entitas (atau kombinasi keduanya) selama satu perioda, yang berasal dari pengiriman atau produksi barang, penyerahan jasa, atau pelaksanaan kegiatan lainnya, yang merupakan kegiatan utama perusahaan secara terus menerus.
h)      Biaya ( expenses ) adalah aliran keluar atau pemakaian aset suatu entitas, atau penambahan utang suatu entitas (atau kombinasi keduanya) selama satu perioda, yang berasal dari pengiriman atau produksi barang, penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan utama perusahaan secara terus menerus.
i)        Keuntungan ( gains ) adalah kenaikan ekuitas (aset neto) dari transaksi insidentil suatu entitas dan berasal dari semua transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya yang mempengaruhi entitas dalam satu perioda diluar transaksi yang berasal dari pendapatan dan investasi oleh pemilik.
j)        Kerugian ( losses ) adalah penurunan ekuitas (aset neto) dari transaksi insidentil suatu entitas dan berasal dari semua transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya yang mempengaruhi entitas dalam satu perioda diluar transaksi yang berasal dari biaya dan distribusi pada pemilik.    
7.      SFAC No. 7 (Using Cash Flow Information and Present Value in Accounting Measurement )
Statement No. 7 lebih menekankan pada isu pengukuran spesifik daripada isu konseptual yang lebih luas, karena itu statement ini dapat dilihat sebagai bagian dari Statement No. 5. SFAC No. 7 digunakan pada situasi dimana current market value tidak tersedia sehingga harus menggunakan estimasi aliran kas di masa mendatang.
Present Value Measurement
Poin penting mengenai pengukuran asset adalah pengukuran present value yang digunakan untuk mensimulasi fair value. Discount rate harus meliputi risiko dan ketidakpastian yang merefleksikan pengukuran pasar terhadap nilai asset. Jika asset tertentu memiliki beberapa kemungkinan aliran kas dalam beberapa tahun, maka aliran kas yang diekspektasi harus menentukan probabilitas aliran kas individu tertimbang.
Liability Measurement
Poin penting dalam pengukuran liabilitas adalah discount rate harus diikutkan dalam perhitungan credit standing perusahaan.
Pengukuran asset dan liabilitas sesuai ketentuan SFAC No. 7 dinilai tidak konsisten. Sebuah asset dapat dipandang dan dinilai secara terpisah dari entitas perusahaan, tapi pada saat mengukur liabilitas tidak dapat demikian.

Pendekatan perumusan teori akuntansi:
a.       Deduktif: perumusan teori dimulai dari perumusan dalil dasar akuntansi (postulat dan prinsip akuntansi) dan selanjutnya rumusan dasar ini diambil kesimpulan logis tentang teori akuntansi mengenai hal yang dipersoalkan. Jadi, perumusan dimulai dari dalil umum kepada dalil khusus.
b.       Induktif: penyusunan teori akuntansi didasarkan pada beberapa observasi dan pengukuran khusus dan akhirnya dari berbagai sample dirumuskan fenomena yang seragam atau berulang (informasi akuntansi) dan diambil kesimpulan umum (postulat dan prinsip akuntansi).


D.  Kendala( Constraints )
Dalam menyediakan informasi yang mengandung karakteristik kualitatif agar membuatnya lebih berguna, dua kendala yang dominan harus diperhatikan:
1.    Hubungan Biaya-manfaat (Cost-benefit Relationship)
·         Hubungan biaya-manfaat yang harus diperhitungkan adalah biaya penyediaan informasi harus ditimbang terhadap manfaat yang bisa diperoleh dari pemakaian informasi tersebut.
·         Dalam rangka menjustifikasi penerbitan suatu standar pengukuran atau pengungkapan tertentu, manfaat yang bisa didapaat dari standar harus melampaui biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan tersebut.
·         Analisis biaya-manfaat sulit dilakukan karena biaya  dan terutama manfaatnya tidak selalu nyata dan dapat diukur.
·         Jenis biaya mencakup biaya pengumpulan dan pemrosesan, biaya biaya auditing, biaya litigasi yang potensial, biaya pengungkapan kepada pesaing, dan biaya analisis serta interpretasi.
·         Manfaat yang diperoleh pembuat laporan keuangan mencakup pengendalian manajemen dan akses terhadap modal yang lebih besar dengan biaya yang lebih rendah.
·         Manfaat yang diperoleh pemakai laporan keuangan yaitu memperoleh informasi yang lebih baik dalam hal alokasi sumber daya, penilaian pajak, dan regulasi tarif pajak.
·         Meskipun sulit menilai biaya dan manfaat standar yang telah ditetapkan, FASB berusaha menentukan bahwa setiap standar yang diusulkan akan  memenuhi kebutuhan yang signifikan, dan biaya yang dikenakan untuk memenuhi standar tersebut dijustifikasi dalam kaitannya dengan manfaat keseluruhan informasi yang dihasilkan.


2.      Materialitas (Materiality)
·      Kendala materialitas berhubungan dengan dampak suatu item terhadap  operasi keuangan perusahaan secara keseluruhan.
·      Suatu item akan dianggap material jika pencantuman atau pengebaian item tersebut mempengaruhi atau mengubah penillaian seseorang pemakai laporan keuangan.
·      Suatu item akan dianggap tidak material dan juga tidak relevan jika pencantuman atau pengabaian suatu iitem tidak mempunyai dampak terhadap pengambilan keputusan.
·      Suatu item harus membuat perbedaan atau, jika tidak, tidak perlu diungkapkan.

E.     Pengakuan dan Pengukuran
Tingkat ketiga kerangka konseptual terdiri dari konsep-konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar dari tingkat pertama. Konsep-konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana unsur-unsur serta kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh sistem akuntansi.
Asumsi-Asumsi Dasar.
Asumsi-asumsi  menyediakan satu landasan bagi profesi akuntansi. Jadi, asumsi dasar akuntansi adalah anggapan-anggapan yang digunakan oleh para akuntan agar akuntansi dapat dipraktikkan.
a.        asumsi entitas ekonomi (economic entity assumption). Akuntansi memandang bahwa perusahaan merupakan unit yang berdiri sendiri dan terpisah dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan (pemilik, kreditor, karyawan, dan lainnya).
b.      Kesinambungan (going concern). Sebagian besar metode akuntansi di dasarkan pada asumsi kelangsungan hidup yaitu perusahaan bisnis akan memiliki umur yang panjang.pengalaman mengindikasikan bahwa, meskipun banyak mengalami kegagalan bisnis, perusahaan dapat memiliki kelangsungan hidup yang panjang.
c.       Asumsi unit moneter ( monetary unit assumption). Akuntansi menggunakan unit moneter sebagai alat pengukur suatu obyek atau aktivitas perusahaan dan menganggap nilai uang adalah stabil dari waktu ke waktu.
d.      Asumsi periodisitas (periodicity assumption). Cara yang paling akurat untuk mengukur hasil operasi perusahaan adalah dengan mengukurnya pada saat perusahaan tersebut di likuidasi. Namun, pengambil keputusan tidak bisa menunggu selama itu untuk menerima informasi semacam itu. Asumsi periodisitas (periodicity assumption) atau periode waktu menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat di pisahkan dalam periode waktu artifisial periode waktu ini bervariasi, tetapi yang paling umum yaitu secara bulanan, kuartalan dan tahunan

Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi
a.      Biaya historis (historical cost). GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisisi. Kos(cost) memiliki keunggulan yang penting dibandingkan penilaian yang lainnya yaitu dapat diandalkan.
b.    Pengakuan pendapatan. Pendapatan umumnya diakui jika (1) telah direalisasi atau dapat direalisasikan dan (2) telah dihasilkan.
c.      Prinsip Penandingan (matching principle).  Beban  untuk suatu periode ditentukan dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu atau dengan periode tertentu.. Beban diakui :
·         jika terdapat hubungan langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau penyerahan jasa,
·          pada periode terjadinya, yakni pada saat kas dikeluarkan jika tidak terdapat hub. Langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau jasa,
·         dengan alokasi yang sistematis dan rasional, jika butir 1 dan 2 tidak terpenuhi. Contoh: depresiasi.
d.     Prinsip Pengungkapan Penuh (full disclosure principle)
Mengakui sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan mencerminkan trade off penilaian, seperti :
·         Hal-hal yang harus diungkapkan karena mempengaruhi keputusan pemakai
·         Kebutuhan untuk menyajikan secara penuh agar informasi dapat dipahami.
Catatan atas laporan keuangan umumnya ditujukan untuk memperkuat atau memperjelas pos-pos yang disajikan dalam bagian utama laporan keuangan.
MASALAH-MASALAH DALAM KERANGKA KONSEPTUAL
FASB mencoba menunjukkan masalah-masalah konseptual terpenting yang berkaitan dengan penetapan standar, yaitu :
Masalah 1 : Pandangan mengenai laba atau penghasilan mana yang harus digunakan?
Ada tiga (3) pandangan berbeda yang diidentifikasikan dalam penentuan laba atau penghasilan (earnings) :
  • Pandangan Aktiva/ Kewajiban atau Pandangan Neraca/Pandangan Pemeliharaan Modal
Berpendapat bahwa pendapatan dan beban hanya berasal dari perubahan dalam aktiva dan kewajiban. Pendapatan adalah peningkatan aktiva dan penurunan kewajiban sedangkan beban adalah penurunan aktiva dan peningkatan kewajiban.
Beberapa peningkatan dan penurunan dalam aktiva bersih dikeluarkan dari definisi penghasilan, yaitu, kontribusi modal, penarikan modal, koreksi atas pendapatan di periode-periode lalu, serta keuntungan dan kerugian akibat pemilik (holding gains and losses)
  • Pandangan Pendapatan/Beban atau Pandangan Laporan Laba Rugi/Pandangan Penandingan
Berpendapat bahwa adanya pendapatan dan beban dihasilkan oleh adanya kebutuhan akan penandingan yang tepat (proper matching). Laba pada dasarnya hanyalah selisih antara pendapatan di satu periode dengan beban yang terjadi untuk memperoleh pendapatan tersebut.
Penandingan, yang merupakan proses pengukuran fundamental dalam akuntansi terdiri atas :
·         Pengakuan pendapatan atau waktu pengakuan melalui prinsip realisasi
·         Pengakuan beban dengan tiga kemungkinan cara:
-        Mengasosiasikan penyebab dan dampaknya, seperti harga pokok penjualan
-         Alokasi yang sistematis dan rasional, seperti depresiasi (penyusutan)
-         Pengakuan langsung, seperti biaya penjualan dan administrasi.
Pandangan pendapatan/beban terutama menekankan pengukuran penghasilan perusahaan, dan bukannya kenaikan atau penurunan modal bersih. Aktiva dan kewajiban (termasuk yang ditangguhkan), dianggap sebagai nilai sisa (residu) yang harus dibawa ke periode-periode di masa depan untuk memastikan terjadinya penandingan yang tepat dan menghindari terjadinya distorsi keuntungan.
·         Pandangan Non-artikulasi
Didasarkan atas adanya kepercayaan bahwa artikulasi akan diikuti oleh redundansi (pencatatan yang berlebihan) karena seluruh peristiwa yang dilaporkan di laporan laba rugi juga dilaporkan di neraca, meski dari sudut pandang berbeda.
Pendapatan dan beban dapat mendominasi pengukuran penghasilan. Kedua laporan keuangan tersebut memiliki keberadaan dan arti yang saling independen. Karenanya, dapat digunakan skema-skema pengukuran yang berbeda untuk keduanya. Salah satu contohnya dari pandangan non artikulasi ini adalah penggunaan metode LIFO di laporan laba rugi dan FIFO di neraca.
            Jika artikulasi dapat dibuktikan sebagai suatu hal yang tidak hanya dibutuhkan namun ternyata juga menguntungkan, maka pilihan yang ada hanyalah antara pandangan aktiva/kewajiban atau pandangan pendapatan/beban. Pilihan diantara kedua pandangan ini tergantung pada pandangan yang mana yang merupakan proses pengukuran yang fundamental :


1) Pengukuran atribut-atribut aktiva dan kewajiban dan perubahan-perubahannya
Penghasilan hanya merupakan konsekuensi dan akibat dari perubahan-perubahan tertentu dari aktiva dan kewajiban
2) Proses penandingan
Perubahan yang terjadi dalam aktiva dan kewajiban hanyalah konsekuensi dan akibat dari pendapatan dan beban. Telah mengarah dengan diakuinya hal-hal seperti “beban yang ditangguhkan”, “kredit yang ditangguhkan”, dan “cadangan” dalam laporan posisi keuangan yang tidak mencerminkan sumber daya ekonomi dan kewajiban namun diperlukan untuk memastikan adanya penandingan dan penentuan laba dengan benar.



















DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Sofyan Safri, Teori Akuntansi, PT. Raja Grafindo Perseda, Jakarta, 1993.

Hendriksen, Eldon  S.,  Accounting Theory, Fifth Edition, Richard D.Irwin Inc.,
Homewood, Illinois, 1990.

Kam, Vernon,  Accounting Theory, Edisi Kedua, terjemahan Suwardjono, BPFE,
Yogyakarta, 1998.




1 komentar:

Anonim mengatakan...

gd...